"Papua, bukan tanah kosong!" — demikian seruan warga suku Awyu sambil menancapkan salib merah di tanah leluhur mereka. Seruan itu bukan sekadar pernyataan politik. Itu adalah proklamasi teologis.
Mengenal Film Ini
Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale — berbasis penelitian sejarah dan antropologi, dibalut investigasi jurnalistik serta analisis kebijakan.[1] Film ini menceritakan perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi masif industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka, termasuk proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu.[2]
Diproduksi secara independen oleh Watchdoc Documentary, Jubi Media, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia,[3] film ini pertama kali diputar dalam gala premiere pada 12 April 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan sejak itu beredar luas melalui pemutaran komunitas di berbagai daerah.[4]
Judul "Pesta Babi" diambil dari tradisi masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon — sebuah ritual adat yang melibatkan babi sebagai simbol penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Papua.[5] Dalam tradisi ini, dikenal dua bentuk utama: awonbon (pesta skala keluarga inti) dan atatbon (pesta besar lintas marga/klan), di mana tuan rumah membagikan daging babi kepada para tamu sebagai simbol persaudaraan dan hubungan timbal balik.[6]
Bumi Adalah Milik Tuhan — Teologi Tanah
Salah satu fondasi teologis terpenting yang dipanggil oleh film ini adalah teologi tanah (theology of land). Alkitab dengan tegas menyatakan:
"Milik Tuhanlah bumi serta segala isinya,
beserta dunia dan semua yang diam di dalamnya."
Tanah bukan sekadar komoditas ekonomi; ia adalah pemberian Allah yang dititipkan kepada manusia untuk dijaga dan dikelola dengan bertanggung jawab (Kejadian 2:15). Seruan warga suku Awyu — "Papua, bukan tanah kosong!" sambil menancapkan salib merah dan palang adat di tanah leluhur mereka[7] — adalah seruan teologis yang dalam. Tanah itu bukan terra nullius. Tanah itu sudah dihuni, disakralkan, dan dijaga selama berabad-abad. Merenggutnya adalah bentuk pencurian terhadap warisan yang Tuhan sendiri percayakan.
Secara teologis, tindakan masyarakat Awyu menancapkan salib merah di tanah mereka sangat bermakna: itu bukan hanya pernyataan kepemilikan, melainkan proklamasi bahwa tanah itu berada di bawah perlindungan Allah — sebuah tanda perjanjian melawan kuasa yang merusak.[8]
Hutan sebagai Tempat Perjumpaan dengan Yang Ilahi
Dalam konteks masyarakat adat, Pesta Babi bukan sekadar acara makan bersama, melainkan sebuah sistem tata kelola sosial dan spiritual yang mengatur hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.[9] Tradisi atatbon bahkan identik dengan penggunaan kekuatan supranatural — penyembelihan babi keramat dilakukan setelah pohon keramat ditanam dan api dinyalakan di dalam rumah upacara.[10]
Ini sangat resonan dengan pemahaman Kristen tentang imago Dei dan keutuhan ciptaan. Manusia diciptakan sebagai penjaga (gardener, Kejadian 2:15), bukan perampas. Ketika hutan Papua digusur, yang dihancurkan bukan hanya ekosistem — tetapi juga ruang spiritual, ruang ibadah, ruang di mana suatu komunitas bertemu dengan Yang Ilahi melalui alam.
"Kalau hutan hilang, barang-barang untuk melaksanakan pesta babi itu kita dapat dari mana?" — Tokoh adat Muyu, dikutip dalam paparan MRP[11]
Pertanyaan ini adalah pertanyaan teologis: bila tempat suci dirobohkan, bagaimana manusia bisa memuliakan Sang Pencipta dengan cara yang diwariskan leluhur mereka?
Kolonialisme sebagai Dosa Struktural
Film ini secara eksplisit menggunakan kerangka kolonialisme untuk membaca situasi Papua hari ini. Sutradara Cypri Dale menjelaskan bahwa kolonialisme sebagai rangka analisis berhasil merangkum semua masalah — dari penggusuran lahan, operasi militer, hingga proyek nasional — dalam sesuatu yang bersifat sistemik dan sudah berlangsung lama.[12]
Dari perspektif teologi pembebasan (liberation theology), kolonialisme adalah dosa — bukan hanya dosa pribadi, tetapi dosa struktural yang membangun sistem penindasan di atas penindasan. Teolog seperti Gustavo Gutiérrez mengingatkan: Allah selalu berpihak kepada yang miskin dan tertindas (preferential option for the poor).[13]
Dalam terang ini, suara masyarakat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu adalah suara yang Allah dengar terlebih dahulu. Gereja dipanggil untuk ikut mendengar dan bersuara.
Pesta sebagai Teologi Komunitas
Dalam film, tradisi pesta babi menjadi metafora kuat: di satu sisi menunjukkan kekayaan budaya yang terancam; di sisi lain mengkritik "pesta" rakus para pemegang kekuasaan dan korporasi yang "membagi" tanah adat tanpa persetujuan pemiliknya.[14]
Secara teologis, ada dua jenis "pesta" yang berhadapan dalam film ini:
Pesta Atatbon
- Membangun persaudaraan lintas marga
- Berbagi dan gotong royong
- Menghormati leluhur & alam
- Gambaran Perjamuan Allah yang inklusif
"Pesta" Korporasi
- Mengonsumsi tanah dan hutan
- Mengabaikan persetujuan pemilik adat
- Menghancurkan martabat manusia
- Gambar ketamakan yang dikecam Alkitab
Yesus membayangkan Kerajaan Allah sebagai pesta yang terbuka dan adil (Lukas 14:12–14). Pesta yang sejati bukan yang menghabisi yang lemah, melainkan yang mengundang mereka ke meja yang sama. Ketika Mikha berteriak "Celakalah mereka yang merebut ladang… dan merampas rumah" (Mikha 2:2), ia sedang berbicara kepada situasi yang sangat relevan dengan apa yang direkam film ini.
Salib Merah dan Theologia Crucis
Gambar warga Awyu yang menancapkan ribuan salib merah di tanah mereka adalah salah satu citra paling kuat dalam film ini. Dalam teologi Luther — theologia crucis (teologi salib) — Allah hadir justru di dalam penderitaan, kelemahan, dan kekalahan yang tampak.[15]
Masyarakat Papua yang berdiri di atas tanah leluhur mereka dengan salib di tangan bukan sedang kalah — mereka sedang mengumumkan bahwa penderitaan mereka tidak tersembunyi dari Allah. Salib adalah tanda bahwa Allah ikut menanggung beban yang mereka pikul.
"Tanah itu menjerit karena darah yang tertumpah di atasnya." — Kejadian 4:10, bdk. Habakuk 2:11
Tanggung Jawab Gereja dan Umat Beriman
Film ini menantang gereja — khususnya gereja di Papua dan seluruh Indonesia — untuk keluar dari keheningan dan keberpihakan pada status quo. Ada beberapa panggilan konkret yang muncul dari refleksi ini:
Panggilan Profetis Gereja
- Bersuara profetis — seperti para nabi yang berani berhadapan dengan kuasa ekonomi yang menindas (Amos 5:24; Mikha 6:8).
- Hadir bersama komunitas yang terdampak — bukan hanya berdoa dari jauh, tetapi ikut merasakan dan memperjuangkan hak mereka.
- Menolak pembenaran teologis atas eksploitasi — sejarah kolonialisme sering memakai agama sebagai pembenar; gereja harus berani meluruskan warisan pahit ini.
- Menjaga keutuhan ciptaan — komitmen ekoteologis yang bukan sekadar wacana, tetapi tindakan nyata dalam membela hutan dan tanah Papua.
Majelis Rakyat Papua sendiri menyerukan agar masyarakat menonton dan menilai sendiri isi film ini, dengan catatan bahwa pesan utamanya berkaitan dengan kondisi hutan dan tanah adat yang terancam.[16] Ini adalah undangan yang patut disambut gereja dengan sikap yang jernih dan berani.
Mendengar Jeritan Bumi dan Manusia
Film Pesta Babi adalah jeritan dari bumi dan dari manusia. Ia mengundang setiap orang beriman untuk tidak memalingkan muka. Teologi yang sejati tidak bisa netral di hadapan ketidakadilan.
Menonton film ini dengan kesadaran teologis berarti mendengar suara Allah yang berbicara melalui wajah-wajah masyarakat adat Papua yang berjuang mempertahankan tanah, hutan, identitas, dan kemanusiaan mereka. Dalam tradisi Alkitab, Allah selalu datang melalui yang marjinal, yang kecil, yang disingkirkan. Dan suara mereka — suara Marind, Yei, Awyu, Muyu — adalah suara yang wajib kita dengar.
"Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik.
Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu selain berlaku adil,
mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"
Catatan Kaki
- Bisnis.com. "Sinopsis Film Pesta Babi: Cerita Konflik Pembangunan di Tanah Papua." 17 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Detik.com. "Film Pesta Babi tentang Apa? Ini Sinopsis, Jadwal Tayang, dan Fakta Menariknya." 2 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- BeritaNasional.com. "Sinopsis Film Pesta Babi." 20 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Kompas.com. "Sinopsis dan Link Nonton Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita." 23 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Tirto.id. "Film Pesta Babi: Tentang Apa, Kapan Tayang, dan Cara Nonton." Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Babelinsight.id. "Mengenal Makna Tradisi Pesta Babi dalam Budaya Masyarakat Papua." Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Historia.id. "Di Balik Pesta Babi." Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Lih. juga penjelasan Ekspedisi Indonesia Baru (@idbaruid) tentang simbol-simbol perlawanan masyarakat Awyu melalui penanaman salib merah (Distrik Fofi, Boven Digoel, Papua Selatan). ↑
- Kompasiana. "Antara Sakralitas Adat, Kenikmatan Kuliner, dan Metafora Kekuasaan: Mengupas Fenomena Pesta Babi dan Gentong Babi." Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). "Kekuatan Supranatural di Balik Tradisi Atatbon Suku Muyu-Mandobo di Papua Selatan." ↗ Sumber ↑
- Papua Selatan Pos. "MRP Minta Tidak Perlu Bereaksi Berlebihan Terkait Pemutaran Film 'Pesta Babi'." 19 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Bisnis.com. "Sinopsis Film Pesta Babi: Cerita Konflik Pembangunan di Tanah Papua." 17 Mei 2026. Mengutip penjelasan Cypri Paju Dale. ↗ Sumber ↑
- Gutiérrez, Gustavo. A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation. Maryknoll: Orbis Books, 1973. Edisi revisi 1988. ↑
- Suara.com. "Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya." 18 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
- Luther, Martin. Heidelberg Disputation (1518). Theses 19–21 tentang theologia crucis vs. theologia gloriae. Dalam: Luther's Works, Vol. 31. Philadelphia: Fortress Press, 1957. ↑
- Papua Selatan Pos. "MRP Minta Tidak Perlu Bereaksi Berlebihan Terkait Pemutaran Film 'Pesta Babi'." 19 Mei 2026. ↗ Sumber ↑
Daftar Pustaka
A. Sumber Film & Media DaringEkspedisi Indonesia Baru. Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita [Film dokumenter]. Sutradara: Dandhy Laksono & Cypri Paju Dale. Jakarta: Watchdoc Documentary / Jubi Media / Pusaka Bentala Rakyat / Greenpeace Indonesia, 2026. Tersedia di: youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8
B. Sumber Berita & JurnalistikBisnis.com. "Sinopsis Film Pesta Babi: Cerita Konflik Pembangunan di Tanah Papua." 17 Mei 2026. ↗ Tautan
Detik.com. "Film Pesta Babi tentang Apa? Ini Sinopsis, Jadwal Tayang, dan Fakta Menariknya." 2 Mei 2026. ↗ Tautan
Historia.id. "Di Balik Pesta Babi." Mei 2026. ↗ Tautan
Kompas.com. "Sinopsis dan Link Nonton Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita." 23 Mei 2026. ↗ Tautan
Papua Selatan Pos. "MRP Minta Tidak Perlu Bereaksi Berlebihan Terkait Pemutaran Film 'Pesta Babi'." 19 Mei 2026. ↗ Tautan
Suara.com. "Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya." 18 Mei 2026. ↗ Tautan
Tirto.id. "Film Pesta Babi: Tentang Apa, Kapan Tayang, dan Cara Nonton." Mei 2026. ↗ Tautan
C. Sumber Budaya & AdatAliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). "Kekuatan Supranatural di Balik Tradisi Atatbon Suku Muyu-Mandobo di Papua Selatan." Tanpa tahun. ↗ Tautan
Babelinsight.id. "Mengenal Makna Tradisi Pesta Babi dalam Budaya Masyarakat Papua." Mei 2026. ↗ Tautan
Suara.com. "Mengenal Tradisi Pesta Babi: Dirawat Bak Anak Sendiri Tapi Terancam Mati Karena Eksploitasi." 19 Mei 2026. ↗ Tautan
D. Referensi TeologisBosch, David J. Transforming Mission: Paradigm Shifts in Theology of Mission. Maryknoll: Orbis Books, 1991.
Gutiérrez, Gustavo. A Theology of Liberation: History, Politics, and Salvation. Maryknoll: Orbis Books, 1973 (Edisi revisi, 1988).
Luther, Martin. Heidelberg Disputation (1518). Dalam: Luther's Works, Vol. 31. Philadelphia: Fortress Press, 1957, hlm. 39–70.
Moltmann, Jürgen. God in Creation: A New Theology of Creation and the Spirit of God. Minneapolis: Fortress Press, 1993.
Sugirtharajah, R.S. The Bible and the Third World: Precolonial, Colonial and Postcolonial Encounters. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.
Wink, Walter. Engaging the Powers: Discernment and Resistance in a World of Domination. Minneapolis: Fortress Press, 1992.
E. Referensi AlkitabLembaga Alkitab Indonesia. Alkitab. Jakarta: LAI, 2009. Teks yang dirujuk: Kejadian 2:15; 4:10; Mazmur 24:1; Amos 5:24; Mikha 2:2; 6:8; Habakuk 2:11; Lukas 14:12–14; Yehezkiel 34:2–4.
Gabung dalam percakapan