Merumuskan Pertanyaan Berbasis Literasi

Bagaimana Cara Merumuskan Pertanyaan Berbasis Literasi?

Panduan praktis menyusun pertanyaan literasi untuk guru, penulis soal, dan pengembang bahan ajar


Pertanyaan berbasis literasi adalah pertanyaan yang dirancang untuk mengukur kemampuan seseorang memahami, menggunakan, dan merefleksikan sebuah teks — bukan sekadar mengingat fakta yang tersurat di dalamnya. Di Indonesia, konsep ini menjadi dasar pengembangan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang menggantikan pendekatan hafalan dengan pendekatan kecakapan berpikir.[1]

1. Kenali Tiga Level Kognitif Literasi

Sebelum menulis pertanyaan, penting memahami bahwa kemampuan literasi membaca terbagi ke dalam tiga level kognitif yang berjenjang dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks.[2]

Level Fokus Kemampuan Kata Kerja Kunci
Menemukan Informasi
(Access & Retrieve)
Mencari dan mengambil informasi yang tersurat langsung dalam teks. temukan, sebutkan, identifikasi, di mana, kapan, siapa
Interpretasi & Integrasi
(Interpret & Integrate)
Memaknai informasi tersirat, menghubungkan antarbagian teks, menarik simpulan. jelaskan mengapa, bandingkan, simpulkan, apa hubungan
Evaluasi & Refleksi
(Evaluate & Reflect)
Menilai kredibilitas dan kualitas teks, mengaitkan isi teks dengan pengalaman atau nilai di luar teks. menurutmu, setujukah kamu, apa pendapatmu, jika kamu

Level ini berlaku baik untuk teks informasi maupun teks sastra, dan disusun dari yang paling rendah kompleksitasnya (menemukan informasi) sampai yang paling tinggi (evaluasi dan refleksi).[3]

2. Perhatikan Tiga Komponen Penyusun Soal

Selain level kognitif, soal literasi yang baik juga memperhatikan komponen konten dan konteks:

  • Konten — jenis teks yang dijadikan stimulus, berupa teks informasi (nonfiksi) atau teks sastra (fiksi).[4]
  • Konteks — situasi kehidupan yang melatari teks, yaitu personal, sosial budaya, atau saintifik.[5]
  • Bentuk soal — dapat berupa pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat, menjodohkan, atau uraian, tergantung level kognitif yang ingin diukur.[6]

3. Langkah-Langkah Merumuskan Pertanyaan Literasi

  1. Pilih teks stimulus yang bermakna. Gunakan teks otentik (artikel, cerita pendek, infografik, tabel data) yang relevan dengan konteks personal, sosial budaya, atau saintifik.
  2. Tentukan level kognitif yang ingin diukur. Jangan langsung menulis pertanyaan — putuskan dulu apakah pertanyaan itu untuk menguji kemampuan menemukan, menginterpretasi, atau mengevaluasi.
  3. Rumuskan pertanyaan sesuai kata kerja operasional level tersebut (lihat tabel pada bagian 1), lalu pastikan jawabannya benar-benar membutuhkan proses berpikir sesuai level yang dituju, bukan sekadar mengutip ulang kalimat dalam teks.
  4. Pilih bentuk soal yang sesuai. Pertanyaan level "menemukan informasi" cocok berbentuk isian singkat atau pilihan ganda sederhana; level "evaluasi dan refleksi" lebih cocok berbentuk uraian atau esai singkat.[6]
  5. Uji pertanyaan dengan teks itu sendiri. Coba jawab pertanyaan tanpa membaca teks — jika bisa terjawab, pertanyaan itu belum benar-benar berbasis literasi.
  6. Hindari pertanyaan yang hanya mengukur ingatan. Pertanyaan literasi yang baik menuntut kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah, bukan sekadar mengingat kembali fakta yang sudah diberikan.[1]

4. Contoh Penerapan pada Satu Teks

Misalkan stimulusnya adalah artikel pendek tentang menyusutnya sebuah danau akibat kekeringan.

  • Level 1 (Menemukan Informasi): "Pada tahun berapa danau tersebut mulai menyusut menurut teks?"
  • Level 2 (Interpretasi & Integrasi): "Apa hubungan antara pola curah hujan yang disebutkan di paragraf kedua dengan penyusutan danau di paragraf pertama?"
  • Level 3 (Evaluasi & Refleksi): "Jika hal serupa terjadi pada sumber air di lingkunganmu, langkah apa yang akan kamu ambil? Jelaskan alasanmu."

Catatan Kaki

  1. Pendekatan literasi bertujuan membangun kecakapan hidup dan pemecahan masalah, bukan sekadar mengingat fakta.
  2. Kerangka AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) membagi proses kognitif literasi membaca menjadi tiga level: menemukan informasi, interpretasi dan integrasi, serta evaluasi dan refleksi.
  3. Level evaluasi dan refleksi merupakan tahap tertinggi, di mana peserta didik menggunakan pengetahuan atau sikap di luar teks untuk menilai dan merefleksikan isi bacaan.
  4. Stimulus soal literasi dapat berupa teks sastra maupun teks informasi.
  5. Konteks teks pada soal literasi dikelompokkan menjadi personal, sosial budaya, dan saintifik.
  6. Bentuk soal literasi bervariasi — pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat, menjodohkan, dan uraian — menyesuaikan level kognitif yang diukur.

Daftar Referensi

  • Pusat Asesmen dan Pembelajaran, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kemendikbudristek. Desain Pengembangan Soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) 2020. (Diakses melalui ringkasan pada bertema.com)
  • Yunandra. "3 Level Kompetensi Literasi Membaca pada AKM." yunandra.com, 2023.
  • Kejar Cita. "Adaptasi Tipe Pertanyaan AKM untuk Ujian Akhir Semester." blog.kejarcita.id, 2021.
  • Zenius. "3 Komponen AKM yang Wajib Diketahui." zenius.net, 2022.
  • Zenius. "Yuk, Belajar Contoh Soal AKM Literasi SMA, Sobat Zenius!" zenius.net, 2021.
  • "Karakteristik Soal Literasi Membaca Berbasis Asesmen Kompetensi Minimum." Repositori Universitas Islam Riau. repository.uir.ac.id
  • OECD. PISA 2018 Reading Framework. Paris: OECD Publishing, 2019.

Catatan: tautan referensi di atas mengarah ke sumber terbuka yang membahas kerangka AKM dan literasi membaca. Sesuaikan gaya kutipan (APA/MLA/lainnya) dengan kebutuhan publikasi Anda.

Artikel ini telah dipublikasikan sebelumnya di kompasiana.com