De Civitate Dei (KOTA ALLAH) Karya Santo Agustinus

☦ De Civitate Dei
Kota Allah · Santo Agustinus dari Hippo

De Civitate Dei (terjemahan: Kota Allah) adalah salah satu karya teologis–filosofis terbesar dalam tradisi Kristen Barat. Ditulis oleh Agustinus dari Hippo (354–430 M) antara tahun 413 dan 426 M, karya ini lahir dari pergolakan sejarah: jatuhnya Roma ke tangan bangsa Visigoth pada tahun 410 M.[1] Dalam karya ini, Agustinus membangun visi tentang dua kota—kota duniawi dan kota surgawi—yang saling terkait namun berujung pada nasib yang berbeda.

“Dua kasih yang membangun dua kota: kasih akan diri sendiri hingga menghina Allah, membangun kota duniawi; kasih akan Allah hingga menghina diri sendiri, membangun kota surgawi.” — Agustinus, De Civitate Dei XIV.28

Latar Belakang dan Tujuan Penulisan

Setelah penjarahan Roma pada tahun 410, banyak kalangan menyalahkan agama Kristen karena dianggap melemahkan semangat Romawi. Agustinus merespons dengan menulis De Civitate Dei sebagai pembelaan terhadap Kekristenan, sekaligus memberikan tafsir metahistoris tentang nasib peradaban.[2] Karya ini menolak pandangan bahwa kemakmuran duniawi adalah tanda kasih ilahi, dan menunjukkan bahwa sejarah manusia digerakkan oleh providentia Dei (penyelenggaraan ilahi).

Struktur dan Isi

Karya ini terdiri dari 22 buku yang terbagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama (buku I–X) adalah polemik melawan kepercayaan dan praktik pagan Romawi. Bagian kedua (buku XI–XXII) memaparkan asal-usul, perkembangan, dan akhir dari dua kota—Civitas Dei dan Civitas Terrena—sebuah narasi teologis yang mencakup penciptaan, kejatuhan, dan keselamatan.[3]

📖 Ringkasan Tematik

  • Buku I–V: Sangkal terhadap tuduhan bahwa Kristen menyebabkan malapetaka Roma. Agustinus menunjukkan bahwa kemalangan sudah terjadi sejak masa pra-Kristen.
  • Buku VI–X: Kritik terhadap politeisme dan teologi pagan, khususnya terhadap pemujaan dewa-dewa yang tidak mampu memberi kebahagiaan abadi.
  • Buku XI–XIV: Asal usul dua kota: tercipta dari dua macam kasih (amor sui dan amor Dei).
  • Buku XV–XVIII: Perjalanan sejarah dua kota, dari zaman para bapa bangsa hingga kerajaan-kerajaan dunia.
  • Buku XIX–XXII: Akhir sejarah: kebangkitan, penghakiman terakhir, dan kebahagiaan abadi bagi warga Kota Allah.

Konsep Dua Kota

Agustinus tidak memaksudkan “kota” secara harfiah, melainkan dua tatanan sosial–spiritual yang dibangun oleh dua jenis kasih.[4] Civitas Dei adalah komunitas orang-orang yang hidup dalam kasih kepada Allah dan sesama demi Allah, didasarkan pada kerendahan hati dan anugerah. Sebaliknya, Civitas Terrena (kota duniawi) dibangun oleh cinta diri, kesombongan, dan keinginan akan kuasa duniawi—meskipun di dalamnya terdapat banyak orang baik, namun secara prinsip ia adalah kota yang fana dan tidak kekal.

“Kedua kota itu dibuat oleh dua macam kasih: yang duniawi oleh kasih akan diri sendiri sampai kepada penghinaan terhadap Allah, dan yang surgawi oleh kasih akan Allah sampai kepada penghinaan terhadap diri sendiri.” De Civitate Dei XIV.28

Agustinus menekankan bahwa kedua kota ini tercampur dalam perjalanan sejarah (permixtio), dan baru akan dipisahkan secara sempurna pada akhir zaman.[5] Dengan demikian, tidak ada institusi duniawi yang dapat diidentikkan secara mutlak dengan Kota Allah, termasuk Gereja yang tampak—karena di dalamnya pun ada lalang dan gandum.

Pengaruh dan Relevansi

De Civitate Dei menjadi fondasi bagi teologi sejarah, filsafat politik, dan doktrin anugerah dalam tradisi Latin. Karya ini memengaruhi para pemikir abad pertengahan seperti Thomas Aquinas, serta tokoh reformasi seperti Martin Luther dan John Calvin. Dalam ranah politik, gagasan Agustinus tentang relativitas negara duniawi dan supremasi hukum ilahi membentuk pemikiran tentang batas kekuasaan dan tanggung jawab moral penguasa.[6]


Catatan Kaki

[1] Agustinus mulai menulis De Civitate Dei sebagai respons atas tuduhan bahwa Kekristenan menyebabkan kejatuhan Roma. Lihat: Brown, P. (1967). Augustine of Hippo. University of California Press, hlm. 296–300.

[2] O'Daly, G. (1999). Augustine's City of God: A Reader's Guide. Oxford University Press, hlm. 12–15.

[3] Markus, R. A. (1970). Saeculum: History and Society in the Theology of St Augustine. Cambridge University Press, hlm. 45–52.

[4] De Civitate Dei XIV.28. Terjemahan Latin: Fecerunt itaque civitates duas amores duo, terrenam scilicet amor sui usque ad contemptum Dei, caelestem vero amor Dei usque ad contemptum sui.

[5] Agustinus menegaskan bahwa sampai akhir zaman, kedua kota tidak dapat dibedakan secara empiris. Lihat: De Civitate Dei I.35; XVIII.49.

[6] Gilson, E. (1929). Introduction à l’étude de Saint Augustin. Vrin, hlm. 241–258; serta kajian politik dalam: Dyson, R. W. (2005). Augustine: The City of God against the Pagans. Cambridge Texts, hlm. xxviii–xxxv.

Daftar Pustaka & Sumber Ilmiah

  • Agustinus. De Civitate Dei (diterjemahkan oleh R. W. Dyson). Cambridge University Press, 1998.
  • Brown, Peter. Augustine of Hippo: A Biography. University of California Press, 1967 (edisi revisi 2000).
  • Markus, R. A. Saeculum: History and Society in the Theology of St Augustine. Cambridge University Press, 1970.
  • O'Daly, Gerard. Augustine's City of God: A Reader's Guide. Oxford University Press, 1999.
  • Gilson, Étienne. Introduction à l'étude de Saint Augustin. J. Vrin, 1929 (cetak ulang 2003).
  • Dyson, R. W. Augustine: The City of God against the Pagans (Introduction & Notes). Cambridge Texts, 1998.
  • Marrou, Henri-Irénée. Saint Augustin et la fin de la culture antique. Éditions de Boccard, 1938 (khusus bab tentang sejarah dan eskatologi).

✧ Disusun berdasarkan edisi kritis dan terjemahan ilmiah. Semua kutipan Latin diterjemahkan dari De Civitate Dei, Corpus Christianorum Series Latina (CCSL) 47–48.


Materi ini disusun untuk keperluan studi teologi dan sejarah pemikiran Kristen,
✍️Disusun oleh Raknumfor Trius Benson Ap. Dibuat untuk pembelajaran mandiri

Baca juga tentang kejatuhan Roma tahun 410 M DI SINI