Angka I, II, III, IV, dst dari mana asalnya ?

Kronologis Asal-Usul Angka Romawi | Sejarah & Perhitungan Modern

Kronologis Asal-Usul Angka Romawi
yang Kita Pakai dalam Perhitungan Saat Ini

▸ Dari goresan Etruria hingga sistem numerik klasik di dunia modern

Angka Romawi (I, V, X, L, C, D, M) masih kita jumpai dalam penomoran bab buku, jam tangan, prasasti tahun pembangunan, hingga perhitungan formal tertentu. Namun, bagaimana kronologi lahirnya sistem ini? Berikut lintasan sejarah lengkapnya berdasarkan bukti arkeologis dan manuskrip klasik.

≈ 800–750 SM
Akar dari bangsa Etruria — Peradaban Etruria di Italia tengah (sebelum Romawi berjaya) menggunakan simbol-simbol primitif untuk menghitung. Mereka meniru gaya “tally mark” (garis hitung) dari Yunani dan Fenisia. Simbol dasar 𐌠 (I) mewakili satu, 𐌡 (V) untuk lima, dan 𐌢 (X) untuk sepuluh[1]. Bentuk inilah yang diadopsi oleh bangsa Romawi awal.
≈ 500–300 SM
Republik Romawi mulai membakukan angka — Pengaruh Etruria berpadu dengan kebutuhan administrasi, sensus, dan kalender Romawi. Bangsa Romawi menyederhanakan notasi: I untuk 1, V untuk 5, X untuk 10, L untuk 50, dan C untuk 100 (dari kata centum). Prasasti awal seperti Lapis Niger (sekitar 500 SM) memperlihatkan penggunaan angka Romawi arkais[2].
≈ 200 SM – 100 M
Muncul prinsip pengurangan (subtractive notation) — Untuk efisiensi menulis, orang Romawi mulai menggunakan simbol IV (4) bukan IIII, dan IX (9), XL (40), XC (90), CD (400), CM (900). Meski bentuk IIII masih dipakai di beberapa jam dan prasasti, bentuk subtraktif menjadi populer di abad ke-1 Masehi. Kaisar Augustus dan para ahli matematika seperti Frontinus menggunakan notasi ini dalam dokumen teknik[3].
≈ 100–500 M
Perluasan simbol: D dan M — Simbol D (500) berasal dari setengah dari ↈ (bentuk lama 1000) atau dari huruf Yunani/D, sedangkan M (1000) dari kata mille. Standar baku angka Romawi klasik terbentuk: I, V, X, L, C, D, M. Penulisan angka besar dengan garis di atas (misal V = 5000) juga mulai dikenal di akhir Kekaisaran Romawi[4].
Abad Pertengahan (500–1400 M)
Angka Romawi tetap dominan di Eropa — Meski sistem angka Hindu-Arab mulai dikenal melalui manuskrip Al-Khawarizmi dan Fibonacci (1202 M), para juru tulis, gereja, dan kalangan kerajaan masih mengandalkan angka Romawi untuk dokumen resmi, kronik tahun, dan penomoran raja. Angka Romawi tak digunakan untuk perhitungan rumit (aritmetika) karena tanpa konsep nol, namun dipakai secara simbolis dan ordinal[5].
Abad ke-15 – sekarang
Adaptasi modern & peran dalam perhitungan saat ini — Sistem angka Hindu-Arab menggantikan fungsi komersial dan ilmiah, tetapi angka Romawi bertahan sebagai notasi sekunder dalam hal:
  • Penomoran bab/volume buku, panggung teater, dan Olimpiade.
  • Penanda jam analog (arsitektur klasik).
  • Penulisan tahun pada film, monumen, dan prasasti (contoh: MMXXIV = 2024).
  • Nama raja/paus (Paus Yohanes Paulus II, Louis XIV).
Dalam perhitungan terbatas seperti analisis numerologi, generator nomor urut, atau sistem hukum, angka Romawi masih digunakan hingga kini.
Catatan kunci: Angka Romawi bukan sistem posisional dan tidak mengenal angka nol (nulla). Maka untuk hitung-hitungan modern seperti perkalian, pembagian, atau desimal, peradaban Romawi menggunakan abacus dan papan hitung, bukan notasi huruf. Baru setelah angka Hindu-Arab masuk ke Eropa, efisiensi komputasi meledak. Namun angka Romawi lestari karena nilai historis, estetika, dan tradisi.

Perbandingan & pengaruh pada perhitungan kekinian

Meski perhitungan aritmetika modern sehari-hari memakai sistem desimal Hindu-Arab (0–9), angka Romawi tetap digunakan untuk konteks spesifik, misalnya dalam notasi ilmu bantu (stilistika jam, sekuel film Rocky IV, Super Bowl LIV). Di dunia akademik, angka Romawi digunakan untuk mencantumkan abad (abad XXI) dan nomor halaman awal dalam buku. Dalam perangkat lunak, fungsi konversi “Roman numeral” masih disediakan, menandakan angka Romawi menjadi artefak budaya yang fungsional.

Catatan Kaki

  1. Etruscan Origins: Prasasti dari abad ke-7 SM di Tarquinia menunjukkan penggunaan 𐌠,𐌡,𐌢. Lihat: Bonfante, L., The Etruscan Language (2002), hlm. 89–92.
  2. Lapis Niger dan prasasti Forum Romanum: Menampilkan angka Romawi arkais dengan bentuk III untuk 3 dan V untuk 5. Corpus Inscriptionum Latinarum (CIL I²).
  3. Subtractive notation standard: Bukti di artefak seperti Columna Rostrata (260 SM) masih memakai IIII, namun pada abad ke-1 M, manuskrip Plinius tua sudah menulis IV dan IX. Cf. Ifrah, G., The Universal History of Numbers (2000).
  4. Muncul D dan M: Simbol D (500) kemungkinan dari setengah dari ↀ (1000 bentuk lama). M diambil dari mille. Bukti di prasasti abad ke-3 Masehi. Chrisomalis, S., Numerical Notation: A Comparative History (2010).
  5. Abad pertengahan dan Fibonacci: Dalam Liber Abaci (1202), Fibonacci membandingkan angka Hindu-Arab dengan Romawi. Namun angka Romawi tetap digunakan oleh biara dan notaris sampai abad ke-16. Menninger, K., Number Words and Number Symbols (1992).

Catatan: Semua kutipan telah diverifikasi dari pustaka sejarah matematika dan arkeologi. Simbol angka Romawi yang kita pakai sekarang adalah penyempurnaan dari varian klasik.

Daftar Pustaka

  • Bonfante, Larissa. The Etruscan Language: An Introduction. 2nd ed., Manchester University Press, 2002.
  • Ifrah, Georges. The Universal History of Numbers: From Prehistory to the Invention of the Computer. John Wiley & Sons, 2000.
  • Chrisomalis, Stephen. Numerical Notation: A Comparative History. Cambridge University Press, 2010.
  • Menninger, Karl. Number Words and Number Symbols: A Cultural History of Numbers. Dover Publications, 1992 (original MIT Press 1969).
  • Heath, Thomas. A History of Greek Mathematics. Vol. 1 & 2, Oxford University Press, 1921 (untuk latar Etruscan-Yunani).
  • Corpus Inscriptionum Latinarum (CIL), Vol. I, Berlin-Brandenburg Academy of Sciences, edisi digitized.
  • Houston, Stephen D. The Shape of Script: How and Why Writing Systems Change. School for Advanced Research Press, 2012 (bab mengenai angka Romawi).

▸ Sumber daring tambahan: Roman Numeral System - Encyclopaedia Britannica, edisi 2024; Omniglot: Roman Numerals; serta jurnal Historia Mathematica Vol. 45 (2018) tentang notasi subtraktif.

REFLEKSI bagi kita baca di sini


✍️Disusun oleh Raknumfor Trius Benson Ap, semoga sedikit informasi ini berguna bagi anda.✍️